Minggu, 27 Februari 2011

IMAM LAPEO SANG PEMBAHARU

IMAM LAPEO PEMBAHARU ISLAM DI MANDAR



K.H. M. TAHIR yang kondang dengan panggilan Imam Lapeo, lahir di Tinambung pada thn 1838. Beliau adalah ulama besar dan penyebar Islam yang tak kenal menyerah dalam menanamkan prinsip-prinsip Tauhid, Akhlak dan keilmuan Islam di Tanah Mandar yang sekarang menjadi Provinsi Sulbar.

Berbagai cara dan upaya telah dilakukannya untuk menyampaikan dan mewujudkan
risalah dan nilai-nilai Islam yang benar kepada ummat Islam di Mandar, yang sudah ter-Isalamkan sejak abad ke 15 di jaman Ammara’diang Kakanna I Pattang Daetta Tommuane oleh usaha Ulama Abdul Rachman Kamaluddin bergelar Tosalama di Binuang.

Walaupun kiprah dan perjuangan Imam Lapeo sering di reduksi dan dibumbui drngan hal-hal yang berbau Supranatural seperti cerita tentang kemampuannya berada di dua tempat sekaligus ; menaklukkan para tukang Doti, bahkan intelektual sekelas Emha Ainun Najib meyakininya, namun kebesarannya sebagai seorang pembaharu ( reformis ) Islam dan sosial tidak diragukan lagi.

Sejatinya memang dalam diri beliau terdapat pasangan karakter berupa kategori-kategori
yang tidak dapat dipisahkan secara dikotomis. Bisa dibilang beliau adalah seorang NU sekaligus Muhammadiyah, modern juga tradisional, rasioanl serta irasional, intelek sekaligus spiritual.

Imam Lapeo adalah sebuah teks yang bisa dibaca dengan pendekatan Positivistis ataupun Naturalis. Cerita tentang beliau adalah sesuatu yang obyektiv sekaligus subyektiv, yang dari sudut pandang post modernism adalah sesuatu yang sah-sah saja.

Walaupun Imam Lapeo tak pernah menyebut dirinya sebagai pembaharu ( modernis ), tetapi kwalitas pribadi dan perjuangan beliau menumjukkan ciri seorang Pembaharu. Hal ini bisa dilacak secara historis dan sosial budaya. Dengan tidak mengecilkan arti penting dakwah tradisionil yang dicirikan dengan pendekatan Tasawwuf yang notabene juga dilakukan oleh Imam Lapeo. Disini penulis mencoba mengangkat fakta yang terabaikan selama ini, bahwa Islam di Mandar tidak pernah lepas dari dinamika dan dialektika pemahaman dan pemikiran Islam di Nusantara.

Proses terbentuknya faham keIslaman Imam Lapeo tak dapat dipisahkan dari sejarah
pengembaraan dan perjalanannya ke Sumatera terutama Minangkabau, Timur-tengah dan Makkah untuk berdagang dan menuntut Ilmu.

Kita tahu bahwa sejak abad ke 13, di Mekkah dan seluruh kawasan Timur-tengah telah bertiup angin perubahan dan pembaharuan Islam yang dibawa oleh Ibnu Taimyah yang kemudian dimantapkan oleh Muhammad Bin Abd Al- Wahhab di Jazirah Arabia di abad ke 18. Inti ajaran kedua ulama ini, yaitu Tauhid yang benar, membuka pintu Ijtihad dan menentang Bid’ah. Selanjutnya semangat pembaharuan ini diteruskan oleh Trio Jamaluddin Al Afgani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha pada abad – abad berikutnya. Di Indonesia faham ini disebarkan mula-mula oleh kaum Paderi dan tertanam kuat di Sumatra Barat. Di Pulau Jawa oleh gerakan Muhammadiyah.

Sebagai seorang yang peka dan haus akan Ilmu Keagamaan, tentu saja Imam Lapeo dalam pengembaraannya telah bersentuhan dan dipengaruhi oleh paham-paham dan pemikiran kaum pembaharu. Namaun yang memantapkan niat Imam Lapeo untuk melakukan pembaruan sosial dan keagamaan adalah pertemuannya dengan seorang Ulama besar dari Yaman, yaitu Sayyid Alwi Jalaluddin Bin Sahal. Dari ulama yang kemudian menjadi gurunya itu, Imam Lapeo memperoleh motivasi untuk memberantas kejahilan, penyimpangan pelaksanaan dan pemahaman agama serta menggalakkan pelaksanaan agama yang benar dalam masyarakat, khususnya di Mandar. ( M. Yusuf Naim, M. Natsir. 2005 ).

Dengan bekal ilmu dan wawasan keIslaman yang didapatkannya selama di rantau, Imam Lapeo kemudian melaksanakan dakwah Islam di Mandar dengan mempraktekkan metode2 perjuangan kaum pembaharu : Struktural maupun Kultural.

Pada level Struktural yang dilakukan Imam Lapeo adalah dengan keterlibatannya dalam mempertankan Kemerdekaan bangsa, dan bergabung dengan Organisasi KRIS Muda ( Kebaktian Rahasia Islam Muda ) bersama Andi Depu, RA daud, AR. Tamma dll. Beliau turut berjuang menentang kesewenang-wenangan Nica Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia dan mengancam kedaulatan bangsa dan agama.

Perjuangan Imam Lapeo dalam menentang penjajahan dan kesewenang-wenangan, adalah tipikal kaum pembaharu. Ibnu Taimiyah dengan menggelorakan semangat Amal Ma’ruf Nahi Mungkar, menentang penjajah Moghul. Jamaluddin Al Afgani mengmbil inspirasi dari ayat ALLAH :" Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hinggah mereka mengubah diri mereka sendiri ", berusaha mempersatukan ummat Islam dalam satu ke Khalifahan untuk melawan dominasi dan eksploitasi Barat.

Pada level Kultural Keagamaan, Imam Lapeo telah mendrikan lembaga pendidikan Pesantren yang bernama Pesantren Addiniyah Al Islamiyah Ahlussunnah Wal Jamaah di thn 1920 an di desa Lapeo, Campalagian. Pesantren yang didirikan Imam Lapeom pada saat itu merupakan bentuk pesantren Modernm. Dalam arti sistim penddidikannya bersifat Madrasah yang mengajarkan, selain pendidikan Agama, juga pendidikan Umum.

Pesantren yang didirikan Imam Lapeo ini, juga menggunakan Sistim Klasikal, yaitu cara pendidikan yang berjenjang dan senantiasa mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan. Bentuk ini disebut sebagai Pendidikan Pesantren Modern. ( M. Yusuf Naim, M. Natsir. 2005 ).



Dari kedua gerakan yang telah dilakukan Imam Lapeo itu ; Struktural dan Kultural, dapat disimpulkan, bahwa beliau adalah salah satu eksponen pembaharu Sosial Keagamaan di Tanah Air. Namun dalam upaya pembaharuannya itu, beliau tetap menghargai Budaya dan Adat Istiadat Mandar. Hal itu ditunjukkan kesediaan beliau untuk menghadiri dan berceramah pada upacara-upacara atau pesta-pesta Adat, seperti Perkawinan, Kematian, pesta Panen dll. Dan juga beliau adalah tetaplah seorang Sufi yang mempraktekkan selain aspek Esoteris Islam, Juga aspek Eksoteris Islam yang mengacu pada paham dan praktek agama secara umum. Dengan kata lain Imam Lapeo di masanya telah melaksanakan apa yang kini populer " Dakwah Kultural ".Salam.


makassar, senin 28 februari, 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar